Saturday, 3 January 2015

Curug Panjang, sebuah Kisah dan Perjalanan

           
            Apa kau pernah mendengar sebuah ungkapan, "Rasa solidaritas yang tinggi bisa didapat ketika kalian bersama dalam sebuah perjalanan"?
            Lalu, apa kau memercayainya?
            Mungkin memang benar tidak semua kebersamaan kamu dapatkan saat itu juga. Atau mungkin, kamu kurang membuka diri, atau merasa tidak membutuhkan orang lain.
            Tapi bagi sebagian orang yang menjunjung tinggi hangatnya kebersamaan, mereka akan bertindak berani dan gegabah—yang kemudian membuat sekitarnya menoleh dan membantu, atau pun menghiburnya.
            Baiklah, sekali lagi. Apa kau pernah merasakannya?
            Ini adalah sebuah cerita pada tanggal 26 bulan Desember di tahun 2014. Menurut sudut pandang author.

_-#RISAMSI19-_

            Di depan sekolah pukul 7 tepat, berikut adalah janjinya. Pukul tujuh lewat lima menit, aku bisa melihat empat orang lelaki sedang bercengkrama, di dekat mereka terparkir tak beraturan empat buah motor. Satu diantara lelaki itu duduk di salah satu bangku kayu tempat pedagang mengemper.
            "Lho, kok, helmnya dua?"
            Aku menyengir sekilas, teringat keluhan salah seorang teman sebelum kami berangkat. "Y-ya ini, temen Salsa mau pinjem helm nanti." kataku seraya meraih telapak tangan besar pria berdarah Palembang ini. Begitu kuat, kasar—namun ketika menggenggamnya, akan terasa kelembutan dan kehangatannya. Orang biasa memanggilnya Ayah, Bapak, dan aku memanggilnya Abi.
            Aku segera pamit dan bergegas pergi, tak ingin lagi ditanya macam-macam. Kuhampiri para pemuda yang kukenali—kemudian mataku teralih pada seorang gadis dengan setelan hijau toska duduk di salah satu deretan bangku kayu. Matanya terfokus pada sebuah gadget yang bersemayam di telapaknya. Aku menepuknya. "Sidney, udah lama?"
            "Hah, enggak kok," jawabnya, kemudian ekspresinya berubah, pupil matanya melebar, "yah, aku lupa bawa helm..." ekspresinya panik—meski terlihatnya datar.
            Aku terdiam sejenak. Dengan ekspresi yang sama, aku merespon, "Lah, kok gak bawa, dah?"
            Kami meminjam salah satu motor ikhwan untuk mengambil helm dirumah Sidney. Letaknya tidak jauh. Setidaknya, tidak sampai satu kilometer.
            Sidney menjadi drivernya, sementra aku duduk dibelakang. Acle meminta agar kami sekalian mampir ke pom bensin untuk memberi asupan pada motor maticnya. Ya, lelaki itu lah yang pertama kali merespon saat aku menyahut untuk meminjam motor. Walau dengan syarat, tapi tak apalah.
            Seorang lelaki menyelutuk, "Nanti kita masak aja lah disana,"
            Aku membatin. Pasti mayoritas diantara mereka tidak membawa bekal.
            "Kompornya bawa emang?"
            "Eh, bilangin Intan suruh bawa kompor."
            "Sa, beli indo*mie sekalian,"
            Singkat kata, persiapan kami belum mencapai angka tujuh puluh persen. Tentang setiap motor yang belum terisi bensinnya bahkan setelah kami berkumpul, tentang kepastian pembawaan kompor dan pengambilan gas kecil dirumah Adit, salah satu ikhwan bertubuh kurus. Juga tentang jas hujan yang tertinggal di bagasi motor—setelah motor tersebut sudah membisu manis didalam rumah yang cukup jauh jika berjalan kaki. Atau tentang pelayan warung yang salah memasukkan mie rebus menjadi mie goreng—alhasil kami harus kembali untuk menukarnya.
            Aku melirik kearah pergelangan tangan, berniat untuk melihat jam—dan sadar bahwa aku tak mengenakan arloji. Gusar, "Ini Intan mana sih dia kagak nyampe-nyampe?!" tak peduli Sidney akan menggubris atau tidak, aku terus mengeluh. "Saskia juga," lanjutku mendengus.
            Menurut informasi yang kuterima dari salah seorang teman yang akan meminjam helm, Saskia, dia sedang menunggu jemputannya—Azat datang. Lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Apa yang dilakukan ketua RISAMSI itu, dan apa yang terjadi disana.
            Pukul delapan kurang lima menit, sebuah motor dominasi warna hitam dengan garis merah di bodynya mulai terlihat dari kejauhan. Helm bernuansa terang dan Jas abu-abu yang menjadi ciri khasnya, Azat, datang dengan seorang gadis di jok belakangnya, Intan. Aku mengerutkan dahi, ini tidak sesuai informasi.
            Usai bercengkrama sebentar, Intan menghampiriku dan Sidney, kemudian mengeluhkan banyak hal. Tidak lama setelah itu, sebuah motor berwarna putih menepi, Ferdi dan Saskia.
            Usai mengatur persiapan seperti; di motor mana tas kompor akan digantungkan, jas hujan ada di motor siapa saja, atau siapa yang menggendong dua tas, dan lain sebagainya, barulah kami memutuskan untuk melaju.
            Deruman mesin motor melaju mengiris jalan arteri, berbelok kearah komsen, kemudian mengikuti jalan. Ferdi menjadi pemandunya saat itu.
            Kami menghabiskan waktu di motor dengan mengobrol satu sama lain. Misal aku dan Acle yang keasikan membincangkan Stand by Me Doraemon—film yang sedang hits, atau movie terakhir Naruto 'The Last' yang tidak jadi tayang di bioskop Indonesia karena Jepang cukup marah  atas kasus pembajakan film Stand by Me oleh Indonesia. Atau tentang Live Action Attack on Titan yang sama tidak jadi tayang di Indonesia atas kasus yang baru saja terjadi itu. Dan juga tentang mimpi burukku yang melihat kawanan Gigantosaurus dan T-Rex memburu seekor beruang.
            Pembicaraan abstrak itu terpotong oleh sahutan Ferdi. "Eh, liat deh, ban belakang kempes, gak?"
            Saskia berusaha untuk melihat kebawahnya. Mungkin ia ragu untuk mengatakannya, sehingga Acle langsung menyahut. "Iya, kempes. Eh, bocor itu Fer. BOCOR!!!"
            Aku mengangkat alis. Oh, ayolah, kita bahkan belum separuh perjalanan.

_-#RISAMSI19-_

            Kami yang ditumpangi—aku, Saskia, Intan, Sidney, dan Dhani memutuskan untuk ikut berjalan kaki menuju bengkel motor. Yang mengendarai motor bertugas untuk mencari bengkel, kemudian kembali untuk menyampaikan informasi. Satu bengkel tidak menerima, kami lanjut ke bengkel yang lain.
            "Jadi ini Curugnya? Kita udah nyampe di Curug nih?" celutuk Saskia disertai tawa panjang.
            Kami berkumpul kembali di depan sebuah bengkel di pinggir jalan raya menuju Kranggan—entah apa namanya. Kami asik menertawakan kesialan, nasib, jalannya, atau takdir yang sedang kami hadapi sekarang.
            "Gara-gara Saskia ini. Lo bilang ke orang tua lo kita naik mobil, kan?"
            "Ih gua kalo bilang naik motor, gua gabakal di bolehin...!" ia membela diri.
            Adit menatap jalanan. Ia tidak ikut bersenda gurau kala itu, hingga seseorang menyelutuk, "Wah Adit juga Adit! Lo bilang ke bapak lo ke Taman Mini, kan?"
            "Mampus lo, Dit, abis ini elu yang kena."
            Yang dibully kali ini tertawa kecil. "Ah, kagak ah,"
            "Ini... Ferdi lagi dah yang kena..."
            "Waktu kita survey juga, yang ban motornya bocor, Ferdi, kan?"
            "Lah yang waktu ke puncak, Ferdi ditilang bayar tiga ratus ribu, hahaha..."
            Dhani menyahut, "Mending gua tiga ratus ribu buat ke Bandung dah naik Bis dari pada ke puncak naik motor tiga ratus ribu, hahaha...!"
            Kami semua melirik kearah Ferdi yang tak juga bicara. Wajahnya menyiratkan penyesalan. Mungkin dalam hatinya ia gelisah. Menyadari itu, kami menutup mulut—tak lagi mengungkit masa lalu Ferdi yang cukup kelam itu.
            "Enggak, gue gak percaya sama kesialan dan keberuntungan," sahut Dhani tegas.
            "Ini bukan takdir, ini nasib." Acle tak kalah tegas.
            Butuh waktu sembilan menit hingga petugas bengkel menyelesaikan tugasnya. Untuk pertama kalinya bagi kami, ada tukang tambal ban yang bisa kerja secepat itu. Biasanya akan memakan waktu setengah jam.
            Dan perjalanan baru saja akan dimulai.

_-#RISAMSI19-_

            Rutenya seperti ini; Jati Asih-Kranggan-Cibubur-Depok-Bogor-Puncak. Kami berangkat pukul delapan pagi—ditambah waktu ban bocor dan sedikit menyasar—waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.
            Motor melaju melintasi jalan lurus yang panjang. Sangat panjang. Dikenal dengan Jalan Tajur. Jika kau bukan orang kuat, kau akan mengantuk ketika menyusurinya. Kalau saja tak ada bahan untuk mengobrol, tanpa sadar matamu akan terpejam.
            "Sa, lo tidur?"
            Aku berusaha mencerna pertanyaan sang pengemudi. "Hah? Kagalah," sahutku ringan. Mana mungkin aku tertidur sementara lelaki di depanku menahan kantuknya agar kami tidak mendapat masalah.
            "Ngantuk nih,"
            Terbesit juga dibenakku untuk bertukar tempat. Tak masalah bagiku untuk menyetir motor, asal bergantian. Aku juga tak keberatan meski harus membonceng laki-laki—asal orang yang dibonceng tahu diri.
            Ragu memang, tapi aku memberanikan diri. "Sebenernya gak apa-apa sih, gua bawa motor, Cle. Maksud gua, ya gak apa-apa. Lo bisa istirahat sebentar—tapi nanti lo bawa lagi, ya... gimana, ya. Ya gua bisa sih bawa motor, beneran bisa. Lo bisa istirahat dulu..." sungguh aku tak mampu merangkai kalimat ketika tahu, mungkin ucapanku akan menggores harga dirinya sebagai kaum adam. Tapi apa daya, aku hanya menawarkan.
            "Enggak."
            Aku menghela nafas. Kami lanjut bersenda gurau. Acle berlagak seperti orang ketiduran, dan berkali-kali aku memukulnya agar tidak bercanda.
            Hingga kami berbelok memasuki pom bensin di Kota Bogor.

_-#RISAMSI19-_

            Kami, para akhwat duduk di bangku tunggu di depan toilet pom. Sementara Sidney menyelesaikan urusannya dengan Toilet, Acle datang. Pemuda itu juga berniat menggunakan toilet.
            Aku menghampirinya, "Cle, gua udah bilang sama Sidney. Nanti gua naik motor sama dia aja, lo sama Ojan. Biar lo bisa istirahat juga,"
            "Enggak, sa."
            "Lo udah ngantuk ah, ngeri gua."
            Dan Acle tetap menolak. Aku menghargai keputusannya, kemudian duduk dibangku bersama Intan dan Saskia. Status kami masih menunggu Sidney di dalam sana.
            "Niatnya mah dateng kesini buat ngaca, eh gaada kaca." sahut Saskia seraya merapihkan posisi lipatan kerudungya.
            Intan tertawa, tanda setuju.
            Tak lama, Acle keluar dari toilet. Kami tertawa, "Lah Sidney yang masuk duluan kenapa Acle yang keluar duluan,"
            Tak lama setelah itu, gadis minim ekspresi itu keluar. Kami kembali ke rombongan.
            Untuk memenuhi sholat Jum'at, para lelaki memutuskan untuk mencari Masjid. Kami melanjutkan perjalanan kearah Kabupaten Bogor, mencari Masjid yang satu arah.
            Perjalanan kami terjeda di sebuah Masjid yang lumayan besar di kawasan itu. Masjid Baiturrahman. Sayang sekali Path ku terhapus ketika ponsel ini di format. Tidak seperti Intan dan Dhani, sejak tadi aku tidak update di Path.
            Kami para akhwat menunggu enam orang ikhwan melaksanakan kewajiban sekaligus kebutuhannya. Mengisi waktu dengan mengganjal perut, kami sibuk dengan gadget masing-masing. Bagaimana tidak, kami semua cukup lelah untuk lanjut tertawa.

_-#RISAMSI19-_

            "Intan...!!!"
            Teriakan Dhani dari luar masjid menembus indra pendengaran kami. Yang dipanggil hanya menjawab seadanya. Kami baru saja selesai sholat zuhur.
            "Cepetan, perjalanan kita masih sejam lagi...!"
            Pukul 1 tepat, dan kami masih berstatus musafir.

_-#RISAMSI19-_

            "Gua suka, deh, cuaca ini," sahut Acle memecah hening.
            Aku menengadah, "Ini? Panas, ah." jawabku santai. Memang panas di Ciawi tidak se-panas di Bekasi.
            "Ini emang panas, tapi adem. Gua suka."
            Aku mengangguk. "Bagi gua, panas ini sama kayak panas di Bekasi jam dua atau tigaan."
            Wajar, karena kami terjebak macet. Setiap motor berlomba, menyalip dua baris mobil dalam satu arah. Jalanan menanjak yang diisi kemacetan ini cukup membuat semua orang terpaksa melek. Salah sedikit saja—seperti tidak menahan rem, akan merugikan orang lain.
            Kami berbelok, mulai memasuki kawasan Puncak. Aku, Acle, Ferdi, Saskia, Ojan, dan Sidney menepi, menunggu kawanan lain yang masih terjebak macet diluar sana. Tidak lama setelah itu, Azat dan Intan datang. Kami masih harus menunggu Adit dan Dhani.
            "Oiya, itu kan nanjak, ya. Emang motornya Adit kuat?"
            Ah, aku lupa. Di bendungan ketika kami baru saja memasuki Bogor, ada hal terjadi. Tempat itu dikenal dengan Garis Katulampa, atau Bendungan Katulampa. Jalanan menanjak—hampir sembilan puluh derajat harus kami lewati. Ferdi lah yang pertama menanjak. Dengan kemampuan motor mio dan berat badan Saskia—dengan lugunya Ferdi mengerem—lalu menoleh ke belakang. Berniat menunjukkan pada Saskia pemandangan diatas bendungan itu.
            "Woy, woy, woy, Fer!! Jangan berenti!!!" Ojan yang mengemudi di belakangnya shock. Sidney, penumpangnya segera turun agar motor bisa menanjak tanpa beban.
            Acle yang berada di belakang Ojan juga kena imbasnya. Aku terpaksa turun, lalu mendorong motor Acle, memaksanya naik keatas.
            Aku menoleh ke belakang, kearah Dhani dan Adit yang sejak awal memang sudah berniat untuk mendorong motor. Ketika di bengkel motor, Dhani menginformasikan berat badannya mencapai angka delapan puluhan.
            Tidak se-damai Intan dan Azat. Gadis itu duduk tenang di jok belakang sementara Azat memperjuangkan motornya untuk tetap kuat naik keatas. "Zat, kuat, ga? Gua perlu turun, ga?" sempat-sempatnya nanya.
            "Enggak. Eh, turun aja," sahut Azat, "eh, gausah, deh,"
            Kami para penumpang—kecuali Intan menanjak dengan kaki. Beat merah milik Ojan mengambek. Mesinnya tidak mau menyala meski majikannya sudah berusaha.
Kami menunggu dibalik tikungan. Berharap cemas agar motor Ojan baik-baik saja.
            Tidak lama, Ojan dan Sidney muncul dari balik tikungan dengan beat merah yang terlihat sehat. Dan kami melanjutkan perjalanan.

_-#RISAMSI19-_

            Saskia membentangkan tangannya lebar, "Ih gila Fer ini adem banget, sumpah ini sejuk banget, sumpah seger banget, Fer,"
            Gerakan itu selalu diulanginya ketika melewati jalan yang mengasupkan udara segar. Tidak peduli akan mengganggu pengendara motor lain, Saskia akan terus melakukannya.
            Kami menyusuri jalan berliku, menanjak dan memutar. Saling menunggu jika pemandu jalan sudah berbelok. Berbincang sambil menunjuk objek-objek yang jarang. Tertawa ketika melihat hal yang dianggap lucu.
            Hingga kami melihat sebuah gapura bertulis 'CURUG PANJANG' dan beberapa motor mengantri di depan pos. Seorang petugas menunjuk kearah jejeran motor, meminta kami membariskan motor disana.
            Kami melepas peluh. Membuka helm, mengeluarkan dompet, membayar tiket masuk tempat wisata. Mengabaikan pertengkaran kecil diantara Adit dan Ferdi, kami menaiki trek batu, menanjak kearah suara sumber air.
            Tidak seperti Cilember, Curug Panjang memiliki wadah yang luas. Derasnya arus air terjun menggantikan suara kami. Beberapa orang dan keluarga asik bermain air, menyiprati satu sama lain. Beberapa diantara mereka ada yang mengarahkan gadget dan dijepit oleh sebuah tongkat besi—atau lebih dikenal dengan tongsis. 
            Kami menuruni tangga, mencari lapak untuk meletakkan barang-barang. Para Ikhwan meminta agar kami—akhwat memasakkan mie sementara mereka bersenang-senang. Cukup tidak adil.
            Tak ada peraturan, tak ada tata tertib. Mereka mengacau. Rusuh. Tidak mau kalah. Sepanci—ya, tak ada mangkuk, mie kuah itu kami taruh di panci—se-panci mie ludes telak dalam waktu singkat. Kami melanjutkan ronde dua. Saat itu pula Saskia dan Sidney meninggalkanku, Intan, dan Azat yang tidak ikut berenang dengan alasan tak bawa baju ganti. Aku tak mengerti. Sudah jelas kami akan ke Curug.
            "Gua mah dateng kesini buat mengayomi anak-anak aja, dah."
            Saskia memanggilnya dengan sebutan 'papah'.
            Kami ber-sembilan—Aku, Intan, Saskia, Sidney, Adit, Ojan, Dhani, Ferdi, dan Acle berpose di depan kamera. Beralih gadget dari milik Dhani ke milik Sidney dilengkapi tongsis milik Intan, kami mengabadikan momen.
            Kau tahu apa yang akan kau lakukan jika bertemu air. Seperti cari perhatian dengan berlagak berani bertahan ditengah arus deras, atau berwaspada agar gadget tidak meleset dari jepitan tongsis, atau tidak berhenti nyengir di depan kamera, atau berenang dan berteriak ketika kau hampir tenggelam.
            Tetes demi tetes tumpah. Kami menengadah ke langit kelabu siang itu. Tidak terlalu berpengaruh, tapi kami tahu bahwa hujan telah turun.
            "Woy, ujan, ujan!!!"
            Aku tidak mengerti. Memangnya kenapa kalau hujan? Toh kita juga sudah dibasahi oleh air.
            Setiap orang naik keatas batu, berlari kecil ke tempat dimana mereka memangkal.
            "Barang-barangnya! Cepet selamatin barang-barang kita!"
            Aku terksiap. Oh, ya, kami punya hal-hal yang harus diselamatkan. Segera diriku menepi, menaiki batu besar—walau sekali terpeleset, lalu bergegas menuju kawanan berada. Beberapa diantara mereka sudah meneduh dibawah pohon besar. Aku menghampiri Ferdi yang masih sibuk mengepak barang-barang meski gerimis sudah berganti menjadi hujan deras. Kutatap sebuah ponsel berwarna hitam putih terbaring indah diguyur derasanya peluru air. "Fer, Fer, itu hapenya sini!"
            Ferdi tertawa kecil. "Hape siapa ini, hahaha,"
            Aku meraihnya. "Punya Intan ini," jawabku berbalik, lalu bergegas menyusul mereka. Kusodorkan benda itu, dan langsung digenggam erat oleh pemiliknya. Dhani meledeki, takut-takut ponsel itu tak bisa diaktifkan lagi.
            "Wih, hape lu kuat, Tan, hahaha...!"
            Tak ada yang perlu di khawatirkan. Ojan meminjam payung ke seorang pedagang baso Cuanki yang juga meneduh bersama kami—untuk mengantarkan kami ke atas, tempat dimana warung yang akan menjadi base kami berikutnya.

_-#RISAMSI19-_

            Adit lebih dulu mandi dan berganti pakaian. Sembari menunggu hujan reda, kami mengabadikan momen lagi. Bercengkrama, tertawa bersama, membully, kami isi waktu dengan hal-hal seperti itu. Mungkin kami tak akan merasakannya lagi suatu hari nanti. Perasaan ketika kesal karena perkataannya tak digubris, atau tertawa renyah karena tidak mengerti arah pembicaraan.
            Hujan reda kala itu. Kami—aku, Saskia, Sidney, Intan, Ojan, dan Acle turun—melanjutkan kesenangan kami yang tertunda. Arus air dibawah air terjun telah berubah warna.
            Kami mengeluh ketika kejernihan air tidak sesuai yang di harapkan. Lalu, siapa peduli? Kami tetap masuk ke dalam air dan saling menyiprati. Hanya kami disana. Kamilah pemilik Curug Panjang kala itu.
            Ferdi datang membawa panci. Katanya, benda itu digunakan untuk mengambil air. Mereka mengatakan untuk melanjutkan masak ronde ketiga.
            "Pinjem, dong, Fer, pancinya." pinta Sidney datar.
            "Ah, jangan, lagi ngumpulin air ujan,"
            "Ih bentar mau liat airnya,"
            Dengan berat hati, Ferdi menyerahkannya. Sidney mengisi panci dengan air, lalu memperlihatkan pada kami isinya. Beberapa butiran cokelat lah yg mengontaminasi warna air.
            Kami hanya duduk dipinggir, diatas batu besar ketika arus mulai deras dan menimbulkan suara gemuruh kencang. Terkecuali Acle. Lelaki itu masih asik berbaring diatas batu-batu. Mungkin hantaman arus air membuat dirinya nyaman berada disana.
            Hawa dingin menusuk pori-pori kulit. Aku bergetar. Menatap lurus kearah kulit telapak tangan yang sudah berkerut, kami menjadikan objek itu sebagai bahan candaan. Sidney lah yang lebih keriput. Diam-diam gadis itu sangat kedinginan.
            "Mana dingin? Gak begitu dingin, ah." sahut Saskia. Dasar anak gunung.
            Gemercik hujan digantikan oleh peluru air. Kami bergegas dan kembali keatas. Menapaki tangga batu yang menghantarkan kami ke warung tempat kawanan berada. Kemudian satu-persatu diantara kami bergantian untuk sholat Ashar dan mandi.
            Aku dan Intan turun ke toilet umum untuk berganti sambil mencari sebuah gagangan panci ditempat awal kami menetap. Mencari dibawah pohon besar tempat kami meneduh. Jika hilang, Intan akan mendapat masalah besar.
            Selesai, kami kembali keatas, mendapati Saskia lebih beruntung karena berganti baju dirumah pemilik warung. Ah, tau begitu, kami tak perlu repot-repot ke bawah.
            Sekalian numpang sholat dan segala macam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Kami bersiap untuk pulang. Masing-masing dari kami sibuk memakai jas hujan, atau menawarkannya.
            "Sa, pake jas ujan, Sa." tawar Acle menyodorkan sebuah jas berwarna biru dongker.
            Sejak kecil, aku membenci jas hujan. "Enggak, ah, lo aja." jawabku menggeleng. Bagiku, lebih baik basah kuyub daripada gerakanku dibatasi oleh pekatnya jas hujan.
            "Dingin, Sa, entar lo sakit,"
            Aku masih membantah. Mungkin Acle lelah, sehingga ia melingkarkan benda tersebut di punggungku, lalu memasangkan tudungnya di kepalaku. Karena sudah dipakaikan, tak enak hati juga jika kulepaskan.
            "Nah ini baru cowok!" sahut Intan menunjuk Acle diselingi tawanya. "Jas ujan tuh langsung dipakein, bukan cuma disodorin doang...!"
            "Acle hari ini cowok banget,"
            "Antara modus sama..."
            "Kenapa, sih?!" yang diledeki angkat bicara. "Gua berbuat baik dikit udah diomong-omongin."
            Kami turun dari Curug Panjang. Menapaki batu-batu, melintasi aliran air terjun, menuruni trek datar, berpegangan kalau-kalau ada yang terpeleset—hingga sampai di tempat dimana kami memarkir motor.
            "Ayo kita ngebut, ya, soalnya kabut udah turun," ujar Dhani memperingatkan.
            Aku merapatkan jas, lalu mengenakan masker. Baru saja Acle akan memakaikan helm di kepalaku, tanganku langsung menepisnya, "Udah, udah, gua bisa, kok."
            Kau benar. Antara cowok banget atau apa, Acle cukup baik di waktu itu.
            Kami melaju, menuruni jalanan berliku. Sunyi. Masing-masing dari kami berharap agar baik-baik saja. Berharap agar kami bisa mendahului kabut, atau tidak terjadi hal-hal mengerikan ditengah jalan licin.
            Kami melihat lagi, Saskia membentangkan tangannya lebar. Biarlah, mungkin dia sangat menyukai udara di pegunungan.
            Merasa pegal karena tidak terbiasa dengan jas hujan, aku menggeser posisi duduk. Seharusnya hal itu tidak terlalu mencolok, tapi Acle menanyakannya. "Lo kenapa, Sa?"
            "Hah? Kaga,"
            "Itu tadi kenapa?"
            "Oh, kaga kok." kataku singkat. "Kok lo tau, sih? Perasaan tadi gua gerak gak gerak-gerak banget, dah,"
            "Tau lah, Sa. Gua kan—“
            Suaranya dibawa angin dan gemuruh langit. Aku memajukan kepala, "Apa?"
            "Gua kan Ninja, Sa."
            Aku menatap jalanan sepi. Ingin merespon, tapi apa daya. Teringat ucapannya yang bersikeras mengatakan, "Tapi Itachi itu pahlawan yang sebenernya!!" tegasnya pagi tadi.
            Aku membuka mulut, "Udah, Cle, sekarang ini lo harus fokus ke jalanan. Gaada Ninja-Ninjaan, fokus."
            Kami melanjutkan perjalanan, menuruni jalan berliku. Hari sudah gelap kala itu. Masing-masing dari kami pasti menikmati pemandangan di gunung. Aku menoleh ke kanan, "Cle! Liat, dah! Indah banget!!!"
            Kau tidak akan melupakan hal yang kau lihat jika menuruni gunung di malam hari. Sebab rumah-rumah warga di gunung memberi hal yang menakjubkan. Normalnya, orang-orang akan menyalakan lampu di malam hari. Dan susunan rumah warga yang tak beraturan—mengikuti dataran gunung—kau akan melihat jajaran lampu bertingkat disana. Kau tidak melihat rumah mereka. Kau melihat lampu-lampu yang mewakili rumah-rumah mereka. Kau akan lelah jika menghitungnya.
            Satu hal yang perlu kau lakukan hanyalah, menikmati pemandangan itu. View yang hanya bisa kau lihat ketika di Gunung.

_-#RISAMSI19-_

            Kami sudah menuruni gunung dan sudah di jalan raya. Menepi di sebuah masjid yang tidak bisa disebut besar, untuk melaksanakan sholat maghrib disana.
            Dhani membuka jaket berwarna oren yang dibanggakannya, memperlihatkan kaos basah yang dikenakannya. Intan mengomelinya seperti emak-emak. Sejak awal, Dhani ngeyel. Lelaki itu tak ingin mengenakan jas hujan karena percaya jaket itu akan melindunginya dari dinginnya cekaman peluru air.
            Dengan modal meminjam baju dan training milik Acle, Dhani mengganti pakaiannya. Menjamak sholat maghrib dan isya, lalu kami lanjut perjalanan.
            Motor-motor melaju, mengiris jalan arteri, berbelok untuk saling menyalip, menahan rapatan jas hujan agar tidak terbang dihembus angin, berlomba-lomba dalam mengejar waktu.
            Menurut cerita Intan, inilah awalnya. Azat tiba-tiba bersuara. "Tan, cek, dah. Di tas gua ada baju ga,"
            "Apa? Basah? Hah?" tanyanya ketus. Sejak awal gadis itu memang sudah memperingatkan agar Azat menggunakan jas hujan. Tapi pemuda itu keras kepala. Kau tahu jaket tak akan menyelamatkanmu dari kejamnya air.
            Dan menepilah kami di pinggir jalan raya. Di depan sebuah rumah kecil dengan mobil bak terparkir di garasi tanpa pagar, Azat melepas jaketnya. Mengeluarkan sebuah kaos dari dalam bajunya.
            "Jangan bilang lo mau ganti disini?!"
            "Ngeyel, sih, kalo dibilang."
            "Jangan bilang kita masih di Bogor," kataku seraya celingukan, mencari papan yang mungkin saya menyertakan alamat jalannya.
            Acle menunjuk kearah plang berwarna putih disebrang jalan. "Tuh, liat aja,"
            Aku menghela nafas. Bogor benar-benar luas. Bahkan setelah lama kami diguyur gerimis, jalanan ini masih di Bogor.
            Azat melepas kaosnya—tanpa sadar si pemilik rumah keluar. Pria berkumis tebal menatap Azat, lalu sesekali memalingkan pandangan. Yang berganti baju acuh. Ia tak menoleh ke belakang sama sekali. Entah tidak sadar atau apa, kedua alisnya masih bertaut bahkan ketika mengenakan jas hujan dari Intan. Sebagai gantinya, Intan memakai jaket Azat yang katanya tahan air itu.
            "Yah, bukannya dari tadi kek lo, Jat."
            "Ini mah gua udah nyampe komsen harusnya. Kalo jalan terus, gua udah di Bekasi, nih."
            Dan Kami melanjutkan perjalanan.
            Masalah tetap masalah. Kami kehilangan jejak Ferdi dan Adit. Menepi lagi di jalan raya, kami saling bertukar informasi. Berusaha menghubungi Saskia atau pun Dhani.
            Menurut cerita Saskia, ini lah yang terjadi. Sama halnya dengan Dhani dan Azat. Ferdi basah kuyub. Mereka memutuskan untuk menepi di pinggir trotoar dan berganti pakaian. Dengan berat hati, Ferdi menurutinya. Ia akhirnya sembunyi dibalik gapura hotel—yang menyediakan semak-semak sebagai pelengkapnya. Tidak peduli tatapan orang-orang yang melintas, Ferdi menanggalkan bajunya.
            Niatnya Saskia ingin membelikan Ferdi sebuah jas hujan. Berhubung harganya mahal, mereka lanjut melaju.
            Hingga akhirnya Allah mempertemukan kami kembali. Sedikit menyalahkan, kami melanjutkan perjalanan. Menembus kobaran angin, menusuk rintikan hujan yang cukup menghalangi pandangan.

_-#RISAMSI19-_

            Kami masih berada di Depok ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Masing-masing dari kami berusaha menghubungi orang tua. Ya, kami menepi di pom bensin untuk mengisi bensin motor Intan. Mio boros.
            Merasa hujan sudah reda, aku memutuskan untuk melepas jas hujan.
            "Cle, lo ada baju lagi, gak?" tanya Intan dengan raut wajah memelas.
            Oh, iya. Dibalik jaket abu-abu itu pasti tak ada lagi warna terang yang tersisa. Mengalihkan pandangan kearah Azat, berharap lelaki yang satu motor dengan Intan itu akan angkat bicara, atau sekedar membantu Intan mencari pakaian gantinya.
            "Baju koko Acle itu aja,"
            Intan mengenakan baju muslim milik Acle sebagai gantinya. Ferdi memiliki masalah yang sama. Ia melepas baju lagi untuk kedua kalinya, dan menggantinya dengan sweater milik Saskia.
            Tukang gorengan di dekat kami memukul-mukul wajannya. Inisiatif, Dhani menawarkan untuk mencoba beberapa gorengan. Membeli, lalu membagikannya pada kami.
            Acle sibuk mengeluh, mencari kunci rumahnya yang hilang ditelan tas. Para lelaki sudah menenanginya dengan mengatakan, "Udah, Cle. Entar dulu, ntar pas di rumah Intan aja nyarinya. Sekarang kita lanjut jalan dulu. Udah malem ini..."
            Suasana hati Acle tidak bagus kala itu.

_-#RISAMSI19-_

            Sunyi senyap. Kami menyusuri jalan satu arah yang cukup sepi. Disisi kanannya berupa deretan dinding, dan sisi kirinya tanah kosong dengan beberapa rumah warga.
            Aku menengadahkan tangan, membiarkan sisa rintik-rintik hujan membasahi telapak. Sejak dulu aku membenci hujan. Langit yang menurunkan penderitaan itu, tak ada yang spesial dari hujan. Mereka datang untuk membuatmu naik darah.
            Tapi kali ini lain. Entah karena hari ini sangat spesial atau aku sangat bahagia, atau kulitku yang sudah mati rasa, atau karena hal lain, aku merasakan sesuatu yang baru.
            Tak ada gugusan bintang berhamparan di langit malam itu. Tak ada pemandangan indah kala itu. Untuk pertama kalinya, aku merasakan hangatnya hujan. Entah karena dinding diantara kelima motor ini yang saling menghangatkan, atau karena aku sedang berada diantara mereka.
            Aku tidak pernah tahu bahwa hujan akan sehangat ini.
            Ketika kau merubah sudut pandangmu, semuanya akan berubah.

_-#RISAMSI19-_

            Acle memacu mesin motornya. Mengeber gasnya. Bermain dengan Ferdi di sebelahnya. Ingin mendahului Ferdi, tapi tak tahu jalan. Ingin dibelakang, tapi Ferdi menjaga kecepatannya.
            Merasa risih, Saskia mengomel. "Kalo mau maju ya maju, mundur ya, mundur!"
            Nihil. Acle masih ingin bermain. Berapa kali pun dibilang, lelaki itu mungkin sedang menenangkan dirinya dengan kebutan.

_-#RISAMSI19-_

            Kami sudah di Kranggan. Merasa sudah tahu jalan, Acle mendahului Ferdi sebagai pemandu jalan. Melesat cepat ditengah jalanan sepi. Aku mencengkram pelan pundaknya ketika si pengemudi menyalip diantara motor dan mobil. Menikmati kencangnya hembusan angin malam, aku memejamkan mata.
            Hingga kami sudah berada di daerah komsen. Berbelok dan mengikuti jalan. Tiba di depan pasar rebo, Acle banting stir ke kiri tanpa rem.
            "Gak jadi kerumah Intan?"
            "Lo mau kesana?" Acle balik bertanya.
            Aku mengalihkan wajah. "Te-terserah elo, sih..."
            Acle semakin memacu mesin motornya. Melaju cepat menyalipi jenis-jenis kendaraan. Aku memajukan wajah lagi, "Nyari kuncinya?"
            Dan pertanyaanku tidak digubris. Aku menoleh ke belakang. Mengikhlaskan makanan-makanan yang seharusnya akan disajikan Intan jika kita kerumahnya. Tapi, ya, apa boleh buat. Pulang lebih larut dari jam ini, aku mungkin tak akan bisa lagi pulang ke rumah.

_-#RISAMSI19-_

            Acle menepi di pinggir jalan yang tidak terlalu sepi. Melepas jas hujan dan melipatnya. Aku berinisiatif untuk membuka tas nya dari depan, membantunya mencari kunci rumah.
            "Mana? Ga ada kan, Sa."
            "Belom." sahutku.
            Baru saja aku membuka isi utama tasnya, meraih sebuah kain—yang tentu saja kucurigai. "Tuh, Cle, lu buka disini aja. Gua agak gimana gitu," ujarku menyodorkan tasnya. Malam itu temaram, sulit bagiku untuk mengenali isi tasnya.
            "Kenapa? Gaada apa-apa,"
            Aku diam sejenak. Teringatnya, pakaian basah Acle disimpan di bagasi motor. Aku mulai berani membuka tasnya, dan merogoh isinya. Meraba setiap benda yang berada di dalamnya, dan menyentuh sesuatu yang cukup keras. Kudekatkan wajahku ke dalam tas, membuat akses agar bisa melihat apa yang kupegang.
            Awalnya aku ragu. Tapi kemudian, wajahku berubah datar. Kukeluarkan benda yang digantung oleh tali itu, lalu menyodorkan ke pemiliknya. "Terimakasih atas segalanya ya, Cle."
            Lelaki itu menatap benda yang kuberikan. Ekspresinya berubah didukung bibirnya yang menyungging lebar, "Kok ada sih, Sa?"
            "Ya, tangan gua emang bisa begitu—“ kataku mengangkat alis.
            "Tapi—“
            Aku beranjak.
            "Thanks, ya, Sa. Hati-hati!"
            "Yayaya, sama-sama," jawabku berbalik. "Lo juga hati-hati,"
            Harusnya aku yang bilang begitu.
            Kemudian aku berjalan memasuki gang. Menghembuskan nafas ringan, lalu berjalan cepat.
            Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu menyiapkan hadiah untuk diriku sendiri. Tapi tahun ini, aku tidak menyiapkannya.
            Terimakasih, atas kebersamaannya.

_-#RISAMSI19-_

            Aku memang berniat untuk menulis cerita ini, bahkan sebelum Fatma memintanya.


"Dilahirkan oleh sebuah kegiatan. Dikembangkan oleh hangatnya kebersamaan. Dimekarkan oleh indahnya cinta dan perjalanan." #RISAMSI19




           
           


           

Monday, 16 June 2014

Keep Tawheed, even you walk alone



     
Kuikat erat lilitan kain putih pada lutut kanan. Sambil melirih pelan, aku meluruskan kedua kaki dan meraih selembar tisu yang tergeletak diatas lantai. Kukibas sedikit, lalu mengusapnya ke dahi. Menyeka sisa cairan merah yang membekas di dahi sebab benturan pada sebuah tiang listrik tadi.
Tak ada hentinya istighfar dalam hatiku. Sambil menahan rasa sakitnya, aku menghembuskan nafas berat. Memohon keselamatan pada Illah yang telah memberiku hidup dan berbagai cobaan di dalamnya.  
Aku memasukkan kembali sebuah kotak putih berlambang plus merah kedalam ransel, lalu menutupnya. Segera aku beranjak dari ruang kecil tersebut dan pergi. Meninggalkan tempat peristirahatan sementara sebagai musafir.  
”Semua manusia memiliki orang yang dicintai dan dibenci. Tapi untukmu, jika ada berkumpul lah dengan orang-orang yang bertakwa.” –Imam Syafi’i

Tiga pria bertubuh besar melintas di hadapanku. Salah satu diantaranya melirikku sinis, mengisyaratkan bahwa aku adalah orang berikutnya.
Aku mengangkat bahu dan berbelok di tikungan. Langkahku terhenti ketika pandanganku tertuju pada seorang lelaki tua terkapar di pinggir jalan. Refleks aku beristighfar pelan, dan berlari kecil menghampirinya.
Tubuhnya dipenuhi oleh luka, beserta darah yang mengalir di sudut bibir kirinya. Salah satu matanya bengkak dan pipi kirinya biru. Sebuah karung di belakangnya terkoyak lusuh. Tersisa sekeping koin yang masih digenggam erat olehnya. ”Tolong...”
Aku segera meletakkan ransel, dan mengeluarkan kotak berwarna putih, P3K. “Astagfirullahaladzim... sungguh Allah akan menolongmu. Tunggu sebentar,” kataku pelan. Kukeluarkan semua isi ransel, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyeka.
Berusaha tenang, aku membuka kotak putih tersebut, mengeluarkan sebotol obat merah yang langsung kuletakkan diatas tanah. Tidak menemukan perban, kapas, kain atau tisu, segera kubuka kembali lilitan kain putih pada lututku, dan mengguntingnya. Kubuang bagian kotornya, dan menggunakan sisanya untuk mengelap mulut si pak tua. Usai melafadzkan Basmallah, aku mulai merawatnya. Selalu kusebut nama Rabb pencipta alam di setiap gerakanku.  
‘BUK!’
Aku memekik, refleks memegang punggungku. Seorang pria baru saja menendangku.
Seorang pria bertubuh besar dengan kaus dalam berwarna putih melempar puntung rokoknya kearahku, “Ini manusia busuk yang tadi!”
“Dia mau sok baik pakai nolong pengemis segala, ya?” kata seorang lelaki dengan tubuh kerempeng, sambil sesekali meneguk air dalam wadah botol kaca berwarna hitam. Langkahnya gontai.
Seorang pria berambut lurus panjang se-leher berjongkok, menjambak rambutku—memaksaku untuk menatapnya.
Aku meringis. Jelas sekali bekas luka goresan di wajahnya beserta tindikan di lubang hidungnya. ”Apa yang kalian inginkan?” tanyaku, berusaha melepas diri.
”Langsung saja,” sahut si pria berambut lurus seraya membuang ludah, tepat di wajahku. ”Aku membencimu.”
Ia segera melepas cengkramannya pada rambutku, lalu berdiri. ”Apanya yang damai? Apanya yang mencintai sesama manusia? Omong kosong! Ajaranmu tidak akan diterima, pecundang.” katanya. Kemudian ia menghela nafas, ”Kami sudah lama hidup dalam kebohongan.”
Si lelaki bertubuh kerempeng tertawa. Dengan tangan kurusnya, ia menunjuk pak tua yang terbaring di belakangku. ”Lihat pengemis yang kau coba tolong barusan! Kau pikir dia bahagia? Dia menderita! Kalau Tuhan benar adanya, seharusnya dia bisa minum bir seperti kami!”
”Berarti...” aku langsung menyela. ”Kalau kalian bisa minum bir seperti itu, berarti Tuhan itu ada, kan...?”
’DUAK!’
”Akh!” kali ini aku memekik keras. Tinju yang di berikan si pria besar menghias wajahku dengan darah. Segera kuusap.
”Masih ada yang ingin kau katakan?” tanya pria itu.
Satu hal yang kumengerti adalah, Dakwah bukanlah sesuatu yang mudah.
Aku menghembuskan nafas berat. Sembari menahan rasa sakit, aku membuka mulut, ”Dalam surah Al-Mai’dah, ayat 90 dan 91... Allah berfirman...” berusaha beranjak, aku menatap mereka bertiga.
”Apa-apaan itu?” tanya si kerempeng mendekatkan wajahnya, ”langsung saja!”
”Meminum khamr adalah perbuatan keji dan itu perbuatan syaithon!” seruku, refleks melangkah mundur.
”HAHAHA...!” lelaki itu tertawa keras, ”lihat, bang, apa yang di katakannya barusan. Katanya, kita ini Setan.”
”Khamr itu bir, maksudnya?” tanya si pria berambut lurus seraya mengangkat alis. Ia menghampiriku dan berkata, ”Memangnya kenapa kalau kami setan? Dunia ini busuk, tahu. Malaikat hidup diatas langit. Yang berada dibawah langit adalah setan dan iblis. Itulah kenyataannya.” katanya tenang.
Aku baru saja akan membalas ucapannya ketika sebuah botol kaca melayang tepat ke dahiku, membentur luka yang baru saja kuobati saat di ruang kosong tadi. ”Astagfirullah! Ya Allah, ini sakit...” lirihku langsung.
”Mintalah pada langit untuk menyembuhkanmu!”
”Tunggu,” seru sebuah suara berat. Aku refleks menoleh.
”Sepertinya kalian sedang bersenang-senang,”
”Yang di maksud dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa yang dibutuhkan olehmu, dan membuang yang selain itu.” –Aktsaam bin Shaifi

Besarnya dua kali lipat dari tubuh orang-orang biasa. Mungkin seukuran atlit petinju. Wajahnya lebih garang dari pada preman-preman pada umumnya. Tapi sepertinya, aura orang itu lebih hangat dari kebanyakan orang di sekitarnya.
”Joe! Akhirnya kau datang!” sahut lelaki kerempeng seraya tertawa girang. ”Ini, orang yang meracuni istrimu dengan perkataannya!”
Pria yang dipanggil Joe itu melangkah ringan, datang kearahku.
Aku menelan ludah. Dalam hati, berkali-kali aku memohon keselamatan kepada Allah SWT. Kulirik pak tua yang masih terkapar di belakangku, sudah tak sadarkan diri.  
Pria tersebut langsung mencengkram kerah baju koko-ku, dan mengangkatku tinggi.
”A-apa—” ucapanku terhenti ketika melihat kedua bola matanya.
Kosong.
Ia langsung menghempaskan tubuhku ke tengah jalan. Aku meringis ketika telapak tangan dan betis kananku menyeret aspal. Rasanya seperti dikikis perlahan. Perih, juga panas.
Berbayang. Mataku berkunang-kunang melihat sekeliling. Tak seorangpun datang untuk menolong kami. Kulihat dua orang wanita di ujung gang, hanya bisa mengintipku dari balik pohon. Sisanya, membuang muka. Menutup mata atas apa yang sedang terjadi.
Aku beristighfar.
Pria itu menghanpiriku lagi. ”Bangun,” katanya.
Aku berusaha untuk bangkit. Namun, tubuhku menolak untuk menuruti keinginan. Seolah menunjukkan padaku bahwa ia juga sudah sampai batasnya.
”Aku tertarik mendengarmu lagi.” ujarnya. ”Dimana rumahmu?”
Aku terhenyak. Segera kudongakkan kepala, melihat wajahnya yang sedang menunduk menatapku. Yang pertama kali kusadari adalah, aku salah. Mata itu... hitam bersinar. Ia tak hampa seperti sebelumnya. ”Ko-kota sebelah...” kataku gugup. ”Aku sedang dalam perjalanan...”
Pria itu berbalik, ”Pastikan kau menghidangkan jamuan untukku dan keluargaku.” ucapnya, lalu melangkah.
Aku tertegun. Ketiga preman itu langsung berlari mengikutinya ketika pria tersebut beranjak dari tempat kejadian ini. Aku menatap punggugnnya yang berlalu. Kemudian mengulas senyum tipis.
Mungkin, aku akan pulang ke rumah...
”Sifat rendah hati yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun.” –Fudlail bin Iyadl

Monday, 17 March 2014

Lihat aku

Suara decitan sepatu meramaikan isi ruangan. Setiap pemain berlari mengejar dan menjaga salah seorang diantara mereka yang mendribel sebuah bola. Lelaki berambut kuning menerima sebuah passing dari salah satu rekannya. Ia kemudian memposisikan kelima jari lentiknya di badan bola, lalu memasukkannya ke ring.
Aku melirik kearah jarum jam, menunjukkan angka lima. Sudah 25 menit ia tidak muncul disini. Aku segera menghampiri seorang pria tua yang duduk dipinggi lapangan, dan izin untuk keluar sebentar. Aku berlari menyebrangi lapangan outdoor, dan masuk ke gedung sebrang. Dalam hatiku terus menggerutu.
Aku terus menaiki tangga hingga lantai empat, atap gedung sekolah. Kubuka pintunya dan mendongak keatas. Aku segera menaiki sebuah tangga yang menempel di dinding pintu atap, dan menemukannya. Seorang pria berambut biru dongker sedang terlelap dalam damai. Kedua tangannya dijadikan bantal tidur. "Hari ini pun kau bolos latihan lagi!" dengusku kesal.
Ia menghela nafas. Aku tahu pria ini mendengarku. Segera kuposisikan diriku dan duduk di sampingnya, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Apa sih... aku mau tidur..." katanya dengan suara berat.
"Kamu sudah terlambat setengah jam, Aomine-kun! Latihanlah dengan serius!" kataku lebih keras.
Ia menggunakan sebelah tangan untuk menutup mulutnya yang menguap, lalu bicara lagi dengan nada berat. "Tidak ada yang bisa mengalahkan aku, Satsuki. Sana pergi."
Aku mengepal tangan erat. Seraya menelan ludah, aku menggigit bibir bawahku. Apapun yang aku katakan padanya, ia tidak pernah menurut. Ia tidak pernah mau mendengarku.
Kuputuskan untuk beranjak dan pergi meninggalkannya. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi ia sudah menyaktiku dengan ucapannya barusan. Aneh, padahal aku sering mersasakannya. Padahal dia memang selalu memperlakukanku seperti itu. Tapi kenapa... disini selalu tertekan rasanya.
.
.
.
.
Lihat aku, Aomine-kun…
Kuroko no Basuke
Disclaimer : bukan saya
Romance, Hurt
Rate T
.
.
.
.
Aku terus berlari dan tiba di sebuah gerbang sekolah, SMA SEIRIN. Aku segera masuk kedalam, tak peduli pada satpam yang menyapa. Aku menuju sebuah bangunan yang dijadikan lapangan indoor tersebut. Masuk kedalam, dan berdiri ditepi garis.
"Hei, bukankah itu... Momoi?
"Satsuki Momoi-san? Kenapa dia disini?"
Aku menunduk, menyembunyikan ekspresiku sesaat. Ketika kudengar suara langkah sepatu datang menghampiriku, diiringi suara lembut dari lelaki berambut biru muda, "Ada apa, Momoi-san?"
Aku segera mengangkat wajah, dan menerjangnya. "Tetsu-kun...!" seruku seraya memeluk tubuhnya. Kutumpahkan segala emosiku di dada bidang kecilnya. Aku memangis dalam sunyi pada dekapannya.
"Aomine-kun... Aomine-kun..." lirihku ketika ia bertanya apa kabarku.
Beberapa lelaki di belakangnya, yang juga sedang latihan basket, menanyakan hal yang mainstream padaku. "Bukannya kamu suka sama Kuroko? Lalu apa salahnya kalau Aomine marah padamu?" tanya Kagami, pria berambuit merah mendengus.
Aku mengangkat wajah, dan mengepal erat. "Memang benar! Tapi Aomine-kun berbeda!" seruku keras. Kemudian aku menunduk, mengecilkan volume suara, "Aku tidak ingin dia membenci, ataupun meninggalkanku..." tanpa sadar, aku terisak.
"Kamu membuatnya menangis, Kagami." ujar kapten mereka, Hyuga.
Aku menjadikan kedua tanganku untuk menghalau setiap bening yang keluar dari kelopak mataku. Hanya disinilah aku bisa menumpahkan amarahku. Hanya disinilah aku bisa jujur pada perasaanku.
Sebuah telapak tangan mendarat diatas kepalaku. Seraya mengusap rambutku, lelaki berambut biru itu tersenyum lembut, "Tenang saja, Momoi-san. Aku akan berbuat sesuatu agar kamu bisa baikan dengan Aomine-kun."
Senyumku langsung mengembang. Aku segera memeluk Tetsu-kun lagi.
"Tuh, gitu cara yang benar," ujar salah satu diantara mereka, membuat pria bertubuh jangkung dan berambut merah itu tersipu malu.
Kemudian, Tetsu-kun mengantarku hingga keluar gerbang. Aku melambai padanya, dan berlari menuju stasiun kereta api. Pulang ke Akademi Touou.
-00-
"Kemana saja kamu, Satsuki?" tanya pelatih ketika baru saja kulangkahkan kaki masuk ruangan.
Aku menyengir, "Ahahaha maaf, maaf…" kemudian aku meraih sebuah lembaran kertas hasil pengamatanku sebagai manajer klub basket. Aku menoleh sekeliling. Pria itu masih belum muncul juga. Aku duduk di bangku pinggir lapangan, dan mencermati setiap gerakan pemain. Melanjutkan aktivitas klub seperti biasa.
Udara menghangat. Aku baru sadar, musim dingin akan segera berakhir setengah bulan lagi. Ng? Besok tanggal empat belas februari ya. Dulu, aku selalu memberikan cokelat pada keenam pemain basket kesukaanku. Aomine-kun dan Tetsu-kun diantaranya.
Aku menghela nafas. Melihat kondisi sekarang saja miris, apa yang seharusnya kulakukan, ya...
-00-
Latihan masih berlangsung, mengingat kami akan mengikuti kejuaraan musim dingin tahun ini. Dan lagi, Aomine-kun tidak ikut latihan. Aku tahu dia memang hebat dalam basket, tapi setidaknya ikutlah latihan.
Aku segera menuju tempat langganannya berada.
"Jangan mengaturku. Memangnya kau siapa?" tanyanya malas, masih memejamkan mata.
"Manajermu! Kita harus bisa menyusun strategi sebaik mungkin. Karena itu, Aomine-kun, latihanlah dengan yang lain!" dengusku kesal.
"Haaaah?" ia masih menjawab dengan nada sama, "sana pergi. Jangan pernah tunjukkan muka jelekmu di depanku lagi."
Tiba-tiba dadaku terasa seperti ditekan. Aku tahu. Aku hanya... tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
Tanpa sadar, aku membanting sebuah papan lapangan di tanganku kearah wajah tidurnya.
"Apa sih?" tanyanya malas seraya membuka mata.
Aku bergegas dan pergi darinya. Aku tahu bahwa kelopak mataku sudah sembab. Aku tahu semua itu, dan aku berusaha menahannya.
"O-oi, tunggu, Satsuki!" panggilnya lebih keras.
Aku semakin menangis. Kau begitu bodoh, Aomine-kun. Padahal aku hanya mengkhawatirkanmu. Memang apa salahnya dengan semua itu?
Lihat aku, Aomine-kun...
-00-
Hari ini aku izin lagi, mengatakan pada pelatih bahwa aku ingin berjalan-jalan sebentar. Kutelusuri pinggir jalan raya dimana toko-toko berjejeran. Aku tidak melihat apapun selain langkah kaki. Begitu merasa pegal karena lama menunduk, aku mengangkat wajah dan memandang lurus. Kulihat sebuah toko yang diramaikan oleh para gadis.
Aku mengintip lalu masuk ke dalam toko tersebut. Berderet bentuk-bentuk cokelat tersusun rapih diatas rak. Ada yang berwarna putih, ada juga yang berwarna merah jambu. Langsung terbesit di kepalaku, Valentine. Seharusnya hari ini adalah hari yang penuh kasih dan cinta. Tapi tidak bagiku. Aku tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang mereka sebut hari kasih sayang itu.
Aku meraih sebuah cokelat batangan berwarna putih. Kutatap baik-baik bentuk persegi panjang kotak-kotaknya. Semenit kemudian, aku membawanya ke kasir. Kuminta salah seorang pegawai disana untuk membungkusnya dengan kertas berwarna biru tua.
Kubawa cokelat tersebut keluar. Untuk apa aku membelinya? Untuk siapa aku akan memberinya? Aku juga tidak berniat untuk memberikannya pada Aomine-kun.
Aku terus melangkah pelan menelusuri jalan. Aku tidak ingin banyak menoleh, sebab yang akan kulihat adalah senyum dan tawa dari setiap pasangan yang lewat. Bagaimana kalau Tetsu-kun? Baik aku akan memberikannya, tapi tidak sekarang. Entah kenapa aku tidak berniat untuk menemuinya. Setidaknya, untuk saat in.
"Bodoh, menyusahkan saja."
Suara berat yang khas terdengar di telingaku. Aku menoleh ke belakang. Sosok pria berkulit gelap berjalan menghampiriku. Nada suaranya masih sama, berat dan malas.
Ia melempar sebuah papan lapangan padaku. "Kau pikir tidak sakit dilempar seperti itu?" katanya, dan berbalik.
Aku menangkap benda milikku itu, lalu memanggilnya, "Tunggu, Aomine-kun!"
Ia menoleh, lalu menghentikan langkahnya, "Apa lagi?"
Tiba-tiba seluruh wajahku merona merah. Aku baru sadar bahwa salah satu tanganku memegang sebuah cokelat batangan, dan Aomine-kun telah melihatnya. Kalau befgitu, langsung saja, "Ini... aku..." pemulaian membuatku gugup.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni tingkahmu itu. Sudah, ya, aku mau tidur lagi."
Tanganku menggapai udara. Aku hanya bisa menatap punggung tegapnya yang berlalu begitu saja. Tanpa sadar, air mataku menetes. Suaraku tidak mau keluar. Kakiku juga enggan untuk mengejarnya. Padahal aku...
Aku mengepal tangan erat, dan membiarkan setiap bulir air mengalir deras di pelupuk mataku. "Lihat aku, Aomine-kun..." lirihku.
Aku terisak, tidak peduli pada setiap pejalan kaki yang heran melihatku. Tangisanku tidak mau reda. Selalu kuucapkan dalam perihku, "Lihat aku, Aomine-kun... aku sedang bicara padamu..." lirihku, berusaha menahan isakan. "Lihat aku..."
Padahal aku... tahu bahwa Aomine-kun tidak akan melirikku. Padahal aku tahu dia akan segera menutup matanya begitu melihatku.
Dunia, katakan padaku, apa aku... salah...?

Wednesday, 25 December 2013

Berbagi Rasa




# Special for my bornday #

Warning : Alur Cepat!
.
.
.
.
I’ve only use excuses to pretend I’m not hurting.
-00-
Sudah beberapa hari sejak aku pindah ke sekolah ini, Kurosaki Gakuen. Selama ini yang selalu menarik perhatianku adalah, sesosok gadis ceria yang selalu bergerak layaknya remote control baru di charge penuh. Dia orang yang sangat enerjik. Setiap waktu luang disekolah, ia habiskan waktunya untuk keluar kelas menuju kelas lain.
“Nakayao, bagaimana harimu kemarin? Menyenangkan?” tanya seorang lelaki berambut cokelat tersenyum kearah gadis itu. Ya, nama gadis periang itu adalah Nakayao.
Gadis itu mengangguk keras seraya tersenyum lebar. Seketika tempat duduknya ramai. Aku langsung sadar bahwa Nakayao lah, poros keramaian itu. Sudah lama aku tahu bahwa Nakayao disenangi semua orang.
Bel istirahat berbunyi. Sebagian siswa mengeluarkan bekalnya, dan sebagian yang lain pergi keluar kelas—termasuk Nakayao. Gadis itu bersenandung riang sembari melompat kegirangan keluar kelas. ”Mau ketempat Makoto lagi?” tanya seorang pria berkacamata diambang pintu.
Lagi-lagi gadis itu mengangguk—tak lupa senyuman lebar di wajahnya. Aku menghela nafas dan membuka kotak bekalku. Kusumpit gumpalan nasi beserta omelet buatan ibu, lalu melahapnya tenang. Kunikmati bekal ini dalam sunyi. Ya, semuanya mendadak sepi setelah gadis ceria itu pergi keluar kelas.
Semenit setelah itu, diluar kelas terdengar bising sekali. Aku mengintip dari jendela kaca, mendapati keramaian disudut lorong sana—didekat tangga. Masih ragu, aku letakkan sumpit dan pergi keluar kelas—bergegas menuju keramaian. Aku tak bisa menahan rasa penasaran lebih lama lagi.
Kini yang kulihat adalah sesosok gadis bertubuh ramping terbaring tak berdaya dibawah tangga sana. Itu adalah Nakayao. Apa gadis itu terlalu bahagia sampai tidak memerhatikan kecerobohannya? Manaku tahu. Yang kulihat adalah, kedua temannya langsung mengomeli habis-habisan sembari memapah dirinya. Sedangkan yang menjadi korban hanya terkekeh sambil tersenyum.
Aku menyadari keanehan gadis itu.
-00-
Hari ini aku datang terlalu pagi. Kulepaskan sepatu dan mengenakan uwabaki—lalu menaiki tangga dan menuju kelas 1B. Seperti yang kuduga sebelumnya, sepi. Aku segera menuju bangku didekat jendela dan duduk disana. Aku mengeluarkan sebuah buku bermata pelajaran ’Jepang Modern’ dari dalam tas dan membacanya. Pandanganku teralihkan pada sepasang insan dibawah sana. Aku menaikkan posisi kepala, mencoba mengintip kebawah. Seorang gadis periang dan seorang pria berbalut perban di kepalanya berjalan beriringan.
Itu Nakayao. Gadis itu terlihat tertawa riang sementara pria berkulit cokelat disampingnya terlihat menaggapi—namun ekspresinya datar. Kuperhatikan baik-baik, senyum yang indah. Beda dengan yang kulihat selama ini.
Kemudian aku melanjutkan aktivitasku.
-00-
”Sebentar ya, aku sedang menyelesaikan tugas. Sedikit lagi!”
Mataku mengekori. Seorang pria berkulit cokelat dengan lilitan perban di kepalanya  duduk diatas meja tempat Nakayao berada. Semenjak kedatangan pria itu, tak seorangpun menyapa Nakayao seperti biasanya. Sudah jelas, karna aku juga merasakannya. Keberadaan pria itu, membuat aura disekitarnya menjadi gelap, matahari seolah redup.
”Cepatlah.” ketus pria itu dingin.
Nakayao membalas dengan kekehan ringan sambil meneruskan aktivitasnya. Aku juga menyelesaikan catatanku. Guru Bahasa tadi terlalu cepat menerangkannya, aku jadi harus mengingat dan mencatat lagi apa yang dijelaskannya. Kemudian suasana terasa hening, mataku mengekori mereka lagi.
”Maaf, ya, aku menyusahkanmu lagi...”
Aku tak henti menatapnya. Wajah Nakayao berbeda saat ini. Wajah itu terlihat menyesal. Wajah sendu yang sangat langka sekali ia tunjukkan.
”Kalau kau meminta maaf lagi, kubunuh kau.” jawab pria itu dingin.
Kemudian Nakayo tersenyum, kembali tertawa.
Cukup lama aku memerhatikan gadis polos itu. Kemarin ia jatuh dari tangga, bukan? Tapi tidak ada memar ataupun bekas luka diseluruh tubuhnya. Aku melihat jelas kepalanya berdarah kemarin.
”Tsuyoshi-san? Kau belum pulang?”
Aku tersentak. Mata kami saling bertatapan sekarang. Aku ganti menoleh kearah pria berkulit cokelat yang kini menatap intens mataku. ”Kamu belum pulang?” tanya Nakayo lagi, lembut.
Masih berdebar, aku segera mengangkat buku catatanku, ”I-ini sebentar lagi selesai, haha...” tawaku hambar.
Nakayao balas tersenyum, lalu memasukkan buku-bukunya kedalam tas. ”Duluan, ya!” sahutnya riang. Pria berbalut perban di kepalanya itu mengekor dibelakang Nakayao, pergi keluar kelas.
Aku berhenti menyengir, menarik bibir yang terangkat menjadi datar.
-00-
Sudah beberapa hari setelah aku mendalami peran sebagai stalker. Pria yang selalu bersamanya itu bernama Makoto kelas 3A, yang selama ini digosipi sebagai kekasih Nakayao. Itu hanya gosip, jadi tidak terlalu pengaruh padaku. Terakhir kulihat, Makoto tampak sudah sehat. Kepalanya tak lagi dililit perban.
Detik demi detik, menit demi menit berputar. Nakayao sudah tiba dikelas dan langsung disambut hangat oleh seisi kelas. Ia tertawa sebentar, lalu menggaruk kepalanya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah bukunya, menarik bangkunya ke mejaku—duduk dihadapanku.
”Boleh minta bantuan? Aku ingin kamu mengajariku PR Matematika...”
Ia memohon sambil memasang puppy eyes. Dia berhasil merayuku. Baru saja aku menarik buku PR nya, seorang lelaki datang sambil menepuk bahunya keras. ”Tumben tidak minta ajarin Makoto-senpai?”
”Uuuh, sakit tahu!” dengus Nakayo seraya balas memukul pinggul lelaki itu.
”Kemana dia?” tanya lelaki itu akhirnya, setelah lama bercanda.
Nakayao terlihat berpikir. Kemudian ia menjentikkan jarinya, ”Tidak tahu, absen mungkin.”  
Ambigu. Jawabannya terlalu mencurigakan untuk disebut jujur. Mataku mengekor lagi, senyum diwajah itu menghilang sesaat setelah lelaki itu pergi. Kali ini, aku terus perhatikan wajahnya. Namun gadis itu tak balas menoleh padaku. Semua orang seharusnya risih jika dipandangi serupa ini. Tapi dia tidak.
Ekspresinya. Apa ia sedang lari? Lari dari masalahnya. Lari dari tatapanku. Lari dari pertanyaanku. Lari dari semua kemungkinan yang ingin kulontarkan.
Ia mengangkat wajahnya, ”Aku tidak mengerti yang ini,” ujarnya seraya menunjuk nomor tiga. Aku mengangguk dan mencermati soal matematika itu.
”Rumahmu dimana, Tsuyoshi-san?” tanyanya menyengir.
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab. ”Didekat persimpangan Shibuya.”
”Hooo...” ia mengangguk pelan. ”Rumahku di Nakano, dekat dengan Shibuya. Hari ini kita pulang bareng, ya!” serunya riang.
Senyuman itu... janggal. Sesaat setelah ia fokus pada PR Matematikanya, aku menangkap sesuatu. Aku tahu bahwa wajah itu palsu.
-00-
Ini hari libur. Yang kulakukan adalah pergi ke perpustakaan kota di Nakano, meminjam buku untuk refrensi. Setelah turun dari stasiun Nakano, aku menapakkan kaki ditempat yang sudah biasa kukunjungi. Pandanganku tak henti melihat orang lalu-lalang, seolah aku adalah kamera yang sedang merekam mereka semua. Memang tidak seramai di Shibuya.
Aku melangkah pelan dan mendapati kerumunan disana. Seorang pria dan berandalan lainnya terlihat sedang memukulkan tongkat besinya ke segala arah. Ada beberapa orang yang terpukul, menciptakan jeritan yang sangat keras. Kudapati sepasang manusia sedang bergandengan tangan disana, itu adalah Nakayao dan Makoto-senpai yang baru saja keluar dari rumah sakit Nakano.
Aku segera bersembunyi dibalik pohon besar dipinggir jalan ini. Aku tidak langsung lari, karna ingin memastikan bahwa Nakayo sudah pergi dari tempat ini,  tempat dimana tawuran massal terjadi. Kericuhan menyebar diseluruh distrik Nakano.
Mataku terus menghujam kedua manusia itu. Sebuah tongkat besi melayang tepat diatas kepala Nakayao, tanpa gadis itu ketahui. ”Nakayao, awas!!!” pekikku refleks keluar dari tempat persembunyian. Namun aneh.
Makoto. Pria itu mendorong tubuh Nakayo pelan, memposisikan tubuh gadis itu kearah lajunya tongkat besi. Aku menganga. Kemudian Nakayao memasang wajah garang dan menarik kerah kemeja Makoto, membalikkan posisi mereka. Dan ’BUUK!!!’
Aku semakin menganga. Sirine mobil polisi terdengar saat itu juga. Para pelaku tawuran perlahan bubar. Orang-orang berpakaian khusus terlihat menangani para korban yang terluka—termasuk Makoto senpai. Tangan pria itu tampak mencengkram udara dan menatap garang kearah Nakayao. ”Sial kau...” lirihnya. ”Sial kau—Nakayao...!”
Kemudian gadis itu menunduk. Aku berlari menghampirinya, ”Apa yang kau lakukan?!” seruku cepat.
Tapi gadis itu tidak mengindahkan perkataanku dan beranjak, terus berjalan memunggungiku. ”Apa yang kau lakukan pada orang yang kau sukai?!” seruku lagi.
Ia menghentikan langkahnya, kemudian melambai sedikit. ”Sayonara, Tsuyoshi-san.”
Sayonara. Terdengar dingin dan sepi.
-00-
Hari ini, pelajaran pertama sengaja dikosongkan untuk dijadikan waktu berkabung. Aku melihat tragedi itu, jadi bisa kutebak untuk siapa acara berkabung ini dilaksanakan.
In memorian : Nakayao Kuroihomura
Aku mengerjap. Apa yang kulihat adalah sebuah keanehan. Kami berkabung untuk Nakayao, untuk gadis itu. Padahal yang kemarin terluka parah adalah Makoto-senpai. Kudengar gosip-gosip di segala penjuru, ada yang mengatakan bahwa Nakayao bunuh diri. Adapula yang mengatakan ironisnya cinta bisa merebut nyawa.
Rasa penasaran yang tinggi membawaku berpijak di rumah sakit Nakano setelah pulang sekolah, hari ini. Usai bertanya pada resepsionis, ia memberitahu kamar Makoto-senpai berada di lantai dua nomor 33. Aku bergegas dan masuk setelah diizinkan oleh perawat yang memberikan jangka waktu untuk menjenguk.
Setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, aku segera mengenalkan diri, ”Aku Tsuyoshi Nakanishi, teman Nakayao-san.”
”Oh,” dengusnya seraya memalingkan wajah.
Aku perhatikan seluk-beluk tubuh pria itu. Tak ada luka sama sekali. ”Luka anda cepat sekali sembuh, ya?” dan pertanyaanku membuat pria itu menoleh, ”kepala. Seharusnya bagian itu tidak bisa sembuh secepat itu, apalagi yang menghantamnya adalah besi.”
Ia terbisu. Kemudian membuka mulutnya, ”...Kau melihatnya?”
Aku mengangguk. Tidak lama setelah itu, Makoto-senpai duduk bersila diatas ranjangnya, membuat selang-selang infus itu terlepas. Ia lalu turun dari sana dan menapakkan kakinya, berdiri kokoh. ”Lihat, aku sama sekali tidak sakit. Kupikir kau mengerti.”
Mataku membelakak. Aku tidak percaya dengan asumsiku, tapi tak kusangka ini serius. Aku menghela nafas berat, ”Kalian... berbagi rasa sakit?” pertanyaan raguku membuatnya mengangkat alis. Aku meneguk ludah, ”Maksudku... jika Nakayao menderita, maka kamulah yang merasakannya... dan sebaliknya...”
Makoto-senpai berbalik dan mendaratkan bokongnya acuh diatas ranjang. Ia bersila tangan, ”Kau benar. Benar sekali,” dengusnya, ”sudah kukatakan padanya, aku tidak peduli ia harus ditabrak truk sekalipun. Tapi dia masih saja keras kepala.”
Pecah semuanya. Benang yang kusut ini, sekarang terurai indah. Alasan kenapa luka Nakayao sembuh dalam sehari adalah, karna luka itu berpindah ke Makoto-senpai. Alasan kenapa Makoto-senpai masuk rumah sakit adalah, karna Nakayao terluka lagi. Alasan kenapa Nakayao mendorong Makoto-senpai saat tragedi tawuran masal itu adalah... karna Nakayao tidak ingin Makoto-senpai meninggal.
”Setelah kematiannya, aku akhirnya terlepas dari kutukan brengsek ini.”
Panas. Mataku panas. Dadaku terasa sesak. ”Maaf...” lirihku. Kini aku merasakan bahwa diriku mulai terisak, ”maafkan aku...”
”Jangan meminta maaf, kau membuatku muak.”
”Maaf...” lirihku lagi. Lengan kemejaku menggesek mataku dengan keras, aku yakin wajahku memerah sangat sekarang. Mau bagaimana lagi. Aku sudah kalah dengan orang ini. Aku kalah dengan orang yang berada di depanku ini.
”Sudah cukup. Untuk apa kau meminta maaf? Tak ada untungnya. Semua sudah berlalu.” ketus Makoto-senpai acuh.
Namun aku belum bisa menyudahinya. Aku masih terus terisak, mengakui fakta bahwa aku terlalu rapuh untuk menerima kenyataan ini. Padahal aku bisa saja berlari dan menghalangi pukulan itu agar tidak mengenai mereka salah satu diantara mereka. Tapi aku terlalu pengecut untuk itu. Aku tidak cukup berani untuk melakukannya. Yang kulakukan hanyalah sembunyi dan menonton tanpa bertindak. Aku ini memang rendahan.
”Maaf menunjukkanmu sisi yang seharusnya tidak kuperlihatkan...” ujarnya membuat mataku mengekor. Pria itu duduk di ranjangnya sambil menunduk. Salah satu lengan menutupi sepasang matanya.  
Aku tidak tahu bahwa Makoto-senpai sedang menangis dalam bisu.


26 Desember 2013